Kepala Detasemen B

Tautan
Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/brimobja/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99
Artikel Campuran
Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/brimobja/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99
Artikel Kesehatan
Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/brimobja/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99
Artikel Iptek
Warning: Parameter 1 to modMainMenuHelper::buildXML() expected to be a reference, value given in /home/brimobja/public_html/libraries/joomla/cache/handler/callback.php on line 99
Quick Wins
Sejak digulirkan Reformasi Polri berbagai terobosan yang dilakukan pimpinan Polri untuk merubah paradigma menjadi Polisi yang berorientasi masyarakat/ Polisi Sipil terus dilakukan hingga diterbitkan buku biru berisi Reformasi Polri, menyentuh 3 aspek meliputi ; aspek Struktural, Instrument dan aspek Kultural. Dua aspek Struktural dan Instrument dapat dipastikan telah berubah mencapai lebih dari 90 prosen, namun demikian seiring perjalanan waktu dari hasil evaluasi perubahan dua aspek saja belum lah cukup jika tidak ditunjang dengan adanya perubahan “kultur” yang menyangkut mentalitas manusia yang mengawaki organisasi tersebut. Kultur Militeristik yang diwarisi Polri sejak lebih dari 3 dasa warsa menjadikan Polisi bukan lagi sebagai pelindung,pengayom dan pelayan masyarakat, tetapi Polisi telah berubah menjadi Institusi yang antagonis dan menganggap masyarakat sebagai musuh bukan sebagai mitra kerja, sikap arogan yang ditonjolkan dilingkungan Polri berdampak pada kinerja Polri terlebih lagi tingkat kepercayaan terhadap masyarakat semakin pudar. Diera transparansi sekarang ini Polisi justru dituntut mengikuti dinamika kehidupan masyarakat, dan bukan lagi sebagai alat penguasa tetapi Polisi yang bekerja untuk membela dan melindungi kepentingan rakyat dari berbagai ancaman yang dihadapi. Upaya kearah perbaikan Polri semakin disempurnakan yang pada akhirnya tercetus program yang dinamakan Grand Strategi Polri terbagi menjadi tiga program masing-masing tahap 2005-2008 yang menjadi prioritas “Public Trust” (kepercayaan masyarakat), tahap 2011-2015 diprioritaskan untuk “ Menggerakkan kemitraan dengan masyarakat”, dan yang terakhir tahun 2016-2020 tahap peningkatan kemampuan Polri (capasibelity). Dalam program percepatan (akselerasi) menuju Polri yang dipercaya hingga diluncurkan program Quick Wins dalam rangka meningkatkan kepercayaan dan kecintaan publik kepada Polri dalam waktu cepat, dengan sasaran merubah pola pikir dan budaya kinerja serta manajemen Polri. Berkaitan dengan hal tersebut diatas, sebagai anggota Polri yang bertugas di garis terdepan dalam pemberian perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat, merupakan sosok Polisi yang pertama dapat menyentuh dalam bidang tugas Kepolisian di masyarakat, karena mereka secara langsung diterjunkan dan berkantor di tengah-tengah masyarakat melalui Desa/ kelurahan. Tidak saja hanya mengemban fungsi tugas penyuluhan, namun peran Polri dalam melaksanan secara menyeluruh, dari kegiatan patroli, penyelidikan, hingga penyelesaian perkara ringan ditingkat masyarakat dimana ia ditugaskan. Karena merupakan centra terdepan dalam pelayanan Polri di masyarakat dan setiap saat bersentuhan dengan kehidupan masyarakat, boleh dikatakan bahwa tugas yang ada di pundak Polri sangat luar biasa, karena ia menjadi mata dan telinga pimpinan Polri, dan terlbih lagi dengan pemberlakuan program Quick Wins/Quick Respon Polri lebih meningkatkan kepeduliannya pada masyarakat binaannya dan peka terhadap berbagai perkembangan yang ada di masyarakat serta meningkatkan ketanggap segeraan dalam memberi bantuan bila diperlukan oleh masyarakat. Polri harus lebih pro aktif dalam menggalang kerja sama dengan berbagai tokoh yang ada di masyarakat binaannya, dan selalu bertindak sebagai pelayan masyarakat dengan berjiwa protagonis, tidak arogan dalam menghadapi masyarakat selalu menampilkan keramahan demi membangun kepercayaan dan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap Polri, yang selama lebih dari tiga dasa warsa melihat masyarakat bagaikan musuh yang harus dibinasakan. TUJUAN : Meningkatkan kepercayaan dan kecintaan publik ( masyarakat ) kepada institusi ( polri ) dalam waktu cepat. SASARAN : Merubah pola pikir dan budaya kerja serta manajemen polri. STRATEGI IMPLEMENTASI - Menggunakan pendekatan pragmatis. - Dilaksanakan dari tingkat pusat sampai dengan kasatwil dan para pelaksana di lapangan. - Adanya komitmen seluruh pejabat / anggota polri. - Sosialisasi internal dan external. ----oo0oo----- |



Sejak digulirkan Reformasi Polri berbagai terobosan yang dilakukan pimpinan Polri untuk merubah paradigma menjadi Polisi yang berorientasi masyarakat/ Polisi Sipil terus dilakukan hingga diterbitkan buku biru berisi Reformasi Polri, menyentuh 3 aspek meliputi ; aspek Struktural, Instrument dan aspek Kultural. Dua aspek Struktural dan Instrument dapat dipastikan telah berubah mencapai lebih dari 90 prosen, namun demikian seiring perjalanan waktu dari hasil evaluasi perubahan dua aspek saja belum lah cukup jika tidak ditunjang dengan adanya perubahan “kultur” yang menyangkut mentalitas manusia yang mengawaki organisasi tersebut. Kultur Militeristik yang diwarisi Polri sejak lebih dari 3 dasa warsa menjadikan Polisi bukan lagi sebagai pelindung,pengayom dan pelayan masyarakat, tetapi Polisi telah berubah menjadi Institusi yang antagonis dan menganggap masyarakat sebagai musuh bukan sebagai mitra kerja, sikap arogan yang ditonjolkan dilingkungan Polri berdampak pada kinerja Polri terlebih lagi tingkat kepercayaan terhadap masyarakat semakin pudar. Diera transparansi sekarang ini Polisi justru dituntut mengikuti dinamika kehidupan masyarakat, dan bukan lagi sebagai alat penguasa tetapi Polisi yang bekerja untuk membela dan melindungi kepentingan rakyat dari berbagai ancaman yang dihadapi. Upaya kearah perbaikan Polri semakin disempurnakan yang pada akhirnya tercetus program yang dinamakan Grand Strategi Polri terbagi menjadi tiga program masing-masing tahap 2005-2008 yang menjadi prioritas “Public Trust” (kepercayaan masyarakat), tahap 2011-2015 diprioritaskan untuk “ Menggerakkan kemitraan dengan masyarakat”, dan yang terakhir tahun 2016-2020 tahap peningkatan kemampuan Polri (capasibelity). Dalam program percepatan (akselerasi) menuju Polri yang dipercaya hingga diluncurkan program Quick Wins dalam rangka meningkatkan kepercayaan dan kecintaan publik kepada Polri dalam waktu cepat, dengan sasaran merubah pola pikir dan budaya kinerja serta manajemen Polri. Berkaitan dengan hal tersebut diatas, sebagai anggota Polri yang bertugas di garis terdepan dalam pemberian perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat, merupakan sosok Polisi yang pertama dapat menyentuh dalam bidang tugas Kepolisian di masyarakat, karena mereka secara langsung diterjunkan dan berkantor di tengah-tengah masyarakat melalui Desa/ kelurahan. Tidak saja hanya mengemban fungsi tugas penyuluhan, namun peran Polri dalam melaksanan secara menyeluruh, dari kegiatan patroli, penyelidikan, hingga penyelesaian perkara ringan ditingkat masyarakat dimana ia ditugaskan. Karena merupakan centra terdepan dalam pelayanan Polri di masyarakat dan setiap saat bersentuhan dengan kehidupan masyarakat, boleh dikatakan bahwa tugas yang ada di pundak Polri sangat luar biasa, karena ia menjadi mata dan telinga pimpinan Polri, dan terlbih lagi dengan pemberlakuan program Quick Wins/Quick Respon Polri lebih meningkatkan kepeduliannya pada masyarakat binaannya dan peka terhadap berbagai perkembangan yang ada di masyarakat serta meningkatkan ketanggap segeraan dalam memberi bantuan bila diperlukan oleh masyarakat. Polri harus lebih pro aktif dalam menggalang kerja sama dengan berbagai tokoh yang ada di masyarakat binaannya, dan selalu bertindak sebagai pelayan masyarakat dengan berjiwa protagonis, tidak arogan dalam menghadapi masyarakat selalu menampilkan keramahan demi membangun kepercayaan dan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap Polri, yang selama lebih dari tiga dasa warsa melihat masyarakat bagaikan musuh yang harus dibinasakan. TUJUAN : Meningkatkan kepercayaan dan kecintaan publik ( masyarakat ) kepada institusi ( polri ) dalam waktu cepat. SASARAN : Merubah pola pikir dan budaya kerja serta manajemen polri. STRATEGI IMPLEMENTASI - Menggunakan pendekatan pragmatis. - Dilaksanakan dari tingkat pusat sampai dengan kasatwil dan para pelaksana di lapangan. - Adanya komitmen seluruh pejabat / anggota polri. - Sosialisasi internal dan external. ----oo0oo-----